Skip to main content

Dollar Vs Harga Saham


Di penghujung tahun 2016 ini banyak investor bersiap terhadap Window Dressing, Apa itu Window Dressing?  Window Dressing adalah penggantian portofolio oleh menajer investasi dikarenakan saham-saham tersebut tidak menghasilkan hasil yang optimal dan diganti dengan saham-saham yang berkinerja baik sepanjang tahun.

Lalu bagaimana hubungan Window Dressing dengan judul " Dollar Vs Harga Saham"? Berdasarkan data Bank Indonesia ( Data : Rupiah vs Dollar ) yang diambil per tanggal 1 Nopember - 23 Desember 2016, terjadi penguatan Dollar Amerika (USD) terhadap rupiah. Dampak dari penguatan ini adalah terjadinya kerugian kurs bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki hutang dalam dollar, tapi menguntungkan perusahaan yang pendapatannya dalam dollar. Untuk Window Dressing sendiri ini adalah peluang, efek penguatan dollar akan menekan harga saham perusahaan, tapi jangan khawatir, disnilah peluang window dressing. Semakin murah harga saham (khususnya bluechip/berkapitalisasi besar) maka peluang window dressing semakin besar.

Contoh : Sebuah perusahaan X memiliki pinjaman dalam dollar sebesar $1000 dengan acuan kurs BI USD/IDR adalah 9500 sehingga 9.500x$1.000=9.500.000, pada saat jatuh tempo kurs dollar menguat terhadap rupiah, sehingga USD/IDR adalah 12.000 maka pinjaman tersebut sekarang bernilai 12.000x$1000=12.000.000, maka didapat kerugian yakni 3.500.000 (12.000.000-9.500.000=3.500.000). Dengan kata lain perusahaan harus mengeluarkan uang lebih untuk melunasi hutang-hutang tersebut.

Beberapa perusahaan di Indonesia mengalami kerugian kurs terutama dialami perusahaan yang mengimport bahan baku dari luar negeri dan memiliki hutang dalam bentuk dollar. Beberapa perusahaan yang mengalami rugi kurs adalah CPIN, JPFA, MYOR, ICBP dan lainnya. Tapi "Dimana ada yang dirugikan, disitu ada yang diuntungkan". Untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan ekspor, pastinya akan mengamali laba kurs, contoh perusahaan yang diuntungkan adalah SRIL, SMSM dan lainnya. 

Lalu bagaimana investor harus menyikapinya? Faktor psikologi menjadi peran disini, dimana kebanyakan investor akan melakukan panic selling disebabkan estimasi bahwa segalanya akan terus berlanjut buruk sehingga investor melepas saham-saham yang sebenarnya memiliki kualitas menagement yang bagus. Menyikapi penurunan harga saham harus dengan kesabaran dan keikhlasan. Cobalah perhatikan penurunan harga saham sebagai peluang membeli dengan harga murah dan lihatlah perusahaan-perusahaan Bluechip (seperti UNVR,ICBP,CPIN,GGRM) yang mengalami penurunan harga saham, bukankah ini adalah peluang besar? Indonesia mengalami penurunan terbesar dalam 10 tahun terakhir pada tahun 2008 dan 2015. Mari kita lihat keuntungan (gain) dari peristiwa penurunan harga saham tersbesar pada sejarah Indonesia. Berdasarkan data dari Investing.com, pada Desember 2007 IHSG berada pada 2745 mengalami penurunan hingga 1241 pada Oktober 2008 menjadi titik terendah saat itu, tapi penurunan ini tidak berlangsung terus, pada 2009 IHSG pulih kembali hingga penghujung tahun 2009 IHSG ditutup pada 2534. Pada 2010-2015 terjadi peningkatan yang signifikan dan puncak tertinggi IHSG pada 2015 di 5518, sehingga dapat disimpulkan penurunan yang terjadi maupun yang akan terjadi pada 2017 dan yang akan datang ( prediksi siklus kelam Indonesia 1998-2008-2018, tidak didukung data) seharusnya menjadi batu loncatan ekonomi Indonesia untuk lebih baik lagi.

Bagaimana dengan saham? Sama seperti IHSG setelah lepas dari masa kelam 2008 dan pemulihan sepanjang 2009. Sepanjang tahun 2010-2015 terjadi peningkatan setiap sektor yang membuat IHSG break the resistence, contohnya saja pada 2011 merupakan era jayanya sektor komoditas, industri batubara berada pada kisaran harga $120/ton, pada 2012 giliran sektor CPO yang mencapai $618/ton, pada 2013 giliran sektor properti dan 2014-sekarang setiap sektor mulai bergantian menguat hanya saja efek global belum mendukung sehingga IHSG belum dapat mencapai lebih tinggi lagi. Walaupun global belum mendukung, pemerintah Indonesia memberikan sinyal postif terhadap ekonomi Indonesia sekalipun Dollar menguat, contohnya saja adalah program Tax Amnesty, program Infrastruktur dan kebijakan-kebijakan ekonomi lainnya yang membuat penulis optimis.





Comments

Popular posts from this blog

Kenapa Memilih Saham BUMN?

Sesuai judulnya... Perusahaan-perusahaan yang listing di bursa saham Indonesia terdapat beberapa perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) atau perusahaan yang saham Mayoritas dimiliki oleh negara Indonesia. Beberapa BUMN yang listing dibursa diantaranya :
1. Perusahaan Gas Negara (PGAS) 2. Jasa Marga (JSMR) 3. Waskita Karya (WSKT) 4. Wijaya Karya (WIKA) 5. Wika Beton (WTON) 6. Waskita Beton Precast (WBAP) 7. Bank Mandiri (BMRI) 8. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 9. Bank Nasional Indonesia (BBNI) 10. Bank Tabungan Negara (BBTN) 11. PT Pembangunan Perumahan (PTPP) 12. PP Properti (PPRO) 13. Aneka Tambang (ANTM) 14. Semen Indonesia (SMGR) 15. Semen Baturaja (SMBR) 16. Tambang Bukit Asam (PTBA) 17. Kimia Farma (KAEF) 18. Indofarma (INAF)

Memilih BUMN sebagai tempat investasi memiliki beberapa Kelebihan:
1. Mayoritas Saham Milik Pemerintah     Ini adalah alasan utama, kenapa...??? karena perusahaan BUMN akan mendapat jaminan prioritas dari negara, contohnya adalah proyek jalan Tol oleh JSMR (Detail Proyek Ja…

Buku : Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh

Pada tanggal 19 Januari 2017, setelah selesai ujian akhir semester (UAS), penulis memutuskan untuk pergi ke gramedia di jalan Ringroad Medan. Awalnya penulis hendak membeli buku "Zero to One" karya Peter Thiel yang sebelumnya direkomendasikan oleh anggota Komunitas Saham Indonesia. Namun, buku yang penulis cari sudah habis, So.. akhirnya penulis membeli buku berjudul "Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh" karya Peter D. Schiff dan Andrew J. Schiff.


Buku ini menurut penulis sangat membantu dalam menjelaskan:
Ilustrasi asal-muasal sistem ekonomi Supply and Demand sebagai penggerak perekonomian Bagaimana seharusnya pemerintah mendorong masyrakat untuk menabung Penyebab inflasi dan deflasi Nilai dari sebuah mata uang Pembangunan infrastruktur berdampak terhadap perekonomian Bagaimana belanja negara menjadi bom waktu bagi negara itu sendiri  Bagaimana booming properti berujung krisis pada tahun 2008 dan pembahasan tentang pemahaman fundamental ekonomi 
Buku …

Buku : Disruption oleh Reinald Kasali

Anda ingat Bluebird Tbk? Taxi Express Tbk? Bagaimana laporan keuangan mereka saat ini? Penulis tanpa sengaja melihat sebuah buku baru di tatanan rak Grameda (21 Maret 2016) dan memutuskan untuk membelinya, buku itu berjudul Disruption karya Reinald Kasali dan dikesempatan kali ini penulis ingin membahas dan berbagi cerita tentang buku ini. 
Apa itu "Disruption"? Jika kita terjemahkan maka arti dari Disruption adalah mengacau atau lebih tepatnya pengacau. Apakah uber, grab maupun go-jek adalah pengacau bisnis transportasi? ataukah mereka adalah bentuk dari perubahan?

Jika kita ikuti berita tentang Taxi Online di Indonesia, kita akan ingat. Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan sempat mengeluarkan larangan adanya Go-Jek, namun keputusan itu dianulir oleh Presiden Jokowi. Apa dampaknya dari keputusan ini? Kita bisa melihat bagaimana perusahaan (Go-Jek) bertumbuh dengan cepatnya, melayani semua orang dengan layanan yang bervariatif (Go-Box, Go-Clean dll). Kini, selain Go…