Skip to main content

SIDO : Stay Safe

SIDO MUNCUL (SIDO) perusahaan jamu tradisional dan farmasi dengan menggunakan mesin-mesin mutakhir. Berawal pada tahun 1940, dikelola oleh Ny. Rahkmat Sulistio, Sido Muncul yang semula berupa industri rumahan ini secara perlahan berkembang menjadi perusahaan besar dan terkenal seperti sekarang ini. Pada tahun 1951, Sido Muncul mulai berdiri (klik : Sejarah Sido Muncul).


VISI : Menjadi perusahaan obat herbal, makanan-minuman kesehatan, dan pengolahan bahan baku herbal yang terkemuka dan memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Penulis memberikan judul " SIDO : Stay safe" karena melihat perusahaan yang harga sahamnya tidak banyak bergejolak, walaupun SIDO sempat dihargai 950 pasca IPO nya dan kini dihargai 525 dan tetap secara PER dan PBV tidak murah (17x dan 3,1x). Penulis, pertanggal 10 Januari 2017 memutuskan untuk membeli SIDO dan kini emiten dalam portofolio penulis bertambah menjadi 8 emiten dari sebelumnya (Portofolio Desember 2016 ). Beberapa alasan penulis pada akhirnya membeli SIDO adalah :

1. Cash Perusahaan > Liabilitas
    Berdasarkan laporan keuangan (Q3 2016), SIDO memiliki cash and ekuivalen sebesar 820 Milyar, dengan total liabilitas (current liabilitas + long term liabilitas) sebesar 225 Milyar, Sangat besar bukan? Ya, untuk perusahaan dibidang farmasi, SIDO merupakan salah satu dengan keuangan yang sehat. Berdasarkan email penulis terhadap Corporate Secretary (CorSec) SIDO, dana 820 Milyar ini akan digunakan untuk ekspansi pabrik yang akan selesai tahun 2017 ini dan kedepannya jika ada kebutuhan ekspansi maka SIDO berencana menggunakan kas sendiri (E-mail terhadap SIDO berada di bagian akhir)

2. Net Income bertumbuh (ROE rata-rata> 15% dan OPM> 20%)
    Jika kita cek, semenjak IPO tahun 2014. Kinerja SIDO cukup stabil dengan ROE rata-rata > 15% dan Operating Margin (Ebit/Sales) cukup baik yang mengindikasikan pendapatan perusahaan yang terjaga dengan proses efisiensi yang baik. Bagi penulis kedua data ini mengindikasikan manajamen yang cukup solid. 

3. Produk Tolak Angin menguasai 75% market di Indonesia
    Bukan promosi sebagai market leader, tapi data 75% ini penulis dapatkan dari salah satu investor yang juga pernah menghubungi CorSec SIDO (Alianto, SIDO : Prospek Usaha SIDO Muncul). Beberapa perusahaan yang telah menjadi market leader, dari pengalaman penulis cukup sulit untuk dikalahkan contoh saja ROTI, AQUA, INDOMIE dan lainnya. Kenapa sulit? karena brand tersbeut sudah sangat melekat pada konsumen.

Ketiga alasan itu akhirnya menjadikan penulis membeli saham SIDO, memang tidak besar, hanya 5% dari portofolio penulis. Lalu kapan dijual? Penulis melihat SIDO sebagai saham yang dinilai mahal, tapi dengan kas perusahaan yang terjaga dan bertumbuh, penulis cukup yakin harga saham SIDO akan bertumbuh seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia dan nilai kasnya sehingga penulis akan lebih concern terhadap deviden SIDO (deviden yield 4%) kedepannya ketimbang memperhatikan harga sahamnya.

Berikut penulis lampirkan hasil E-mail penulis terhadap Corporate Secretary SIDO sekaligus balasan dari SIDO

Halo, Ibu Tiur
Perkenalkan saya Ido Aprilian Tarigan, saya adalah salah satu investor publik dan member komunitas "Saham Indonesia" dan pemegang saham SIDO.

Melihat kinerja Q1 hingga Q3 2016 dan membaca data pubex tahun 2016, pendapatan SIDO disumbang oleh peningkatan penjualan Herbal & Supplement (23,8%) dan Food & Beverages 2,7%), sedangkan untuk Pharmacies mengalami penurunan 0,6% YoY, saya  ingin menanyakan beberapa hal dan berharap ibu Tiur meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan saya :

1. Bagaimana strategi perusahaan meningkatkan sektor farmasi kedepannya? Adakah rencana perusahaan bekerja sama dengan perusahan (dalam negeri atau luar negeri) untuk membuat produk baru? atau rencana sektor farmasi masuk ke obat-obatan dan bekerja sama dengan BPJS?
Jawaban : Perusahaan masih wait and see dalam mengambil langkah yang tepat untuk melakukan ekspansi bisnis, khususnya industri farmasi. Di tahun 2016 industri farmasi masih mengalami banyak tekanan terutama dampak dari nilai tukar rupiah terhadap USD, yang sangat mempengaruhi harga bahan baku kebutuhan produksi. Beberapa produk baru farmasi akan diluncurkan di tahun 2017 ini. 
2. Pada berita dari okezone pada 24/11/2016, perusahaan dikabarkan ingin meningkatkan ekspor dari 4% menjadi 10%, bagaimana pendekatan atau strategi perusahaan agar produk-produk Sido Muncul dapat diterima di negara tujuan ekspor?
Jawaban : Pasar ekspor merupakan target jangka menengah Perusahaan. Target kami untuk 3 tahun ke depan adalah meningkatkan penjualan ekspor sebesar 5% atas total penjualan konsolidasi. Tim ekspor kami telah melakukan beberapa penjajakan mulai dari produk, kemasan, hingga strategi promosi dan marketing yang tepat dengan kebutuhan masyarakat negara tujuan ekspor setempat. 
3. Berdasarkan berita, SIDO kini sedang melakukan perluasan pabrik yang akan rampung 2017,adakah rencana perusahaan untuk membangun pabrik baru? untuk ekspor, beberapa perusahaan mengakuisisi perusahaan luar negeri untuk memudahkan ekspornya, adakah rencana mengakuisisi perusahaan luar negeri oleh SIDO ?
Jawaban : SIDO belum memiliki rencana untuk mengakuisisi perusahaan lain. 
4. Untuk produk-produk dengan persentase penjualan yang kecil, bagaimana strategi perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk tersebut? atau adakah evaluasi terhadap produk dengan persentase penjualan yang kecil sehingga ditarik dari peredaran?
Jawaban : Efisiensi jumlah SKU terus kami lakukan dan monitor agar dapat meningkatkan kinerja perusahaan dapat lebih efektif dan edisien. 
5. SIDO adalah salah satu perusahaan yang memiliki cash yang besar dibandingkan dengan liabilitasnya, bagaimana perusahaan melihat cash yang besar ini dan apa rencana perusahaan kedepannya terhadap cash tersebut?
Jawaban : Kas dipersiapkan untuk penyelesaian ekspansi pabrik baru yang akan rampung di tahun 2017. Kedepannya jika ada kebutuhan untuk ekspansi maka diharapkan pembiayaan dapat dilakukan dengan modal sendiri. 
Mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah, terima kasih atas waktu dan perhatian Ibu

Best regards,

Ido Aprilian Tarigan

Terima kasih semoga informasi di atas dapat membantu Bapak Ido.

Regards,

IR SIDOMUNCUL 



Comments

  1. Thanks pak ido atas analisanya. Benar pak, menurut sy ini shm lamban fundamnetal bgs yg cocok di pegang jangka panjang nikmatin bagi hasilnya :) fantastis analisa dan info corsec!

    ReplyDelete
  2. makasih Pak Al, saya lagi pelajari forecast eps, mudah-mudahan bisa segera di tambahkan

    ReplyDelete
  3. Smoga makin hebat makin lengkap pak :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kenapa Memilih Saham BUMN?

Sesuai judulnya... Perusahaan-perusahaan yang listing di bursa saham Indonesia terdapat beberapa perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) atau perusahaan yang saham Mayoritas dimiliki oleh negara Indonesia. Beberapa BUMN yang listing dibursa diantaranya :
1. Perusahaan Gas Negara (PGAS) 2. Jasa Marga (JSMR) 3. Waskita Karya (WSKT) 4. Wijaya Karya (WIKA) 5. Wika Beton (WTON) 6. Waskita Beton Precast (WBAP) 7. Bank Mandiri (BMRI) 8. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 9. Bank Nasional Indonesia (BBNI) 10. Bank Tabungan Negara (BBTN) 11. PT Pembangunan Perumahan (PTPP) 12. PP Properti (PPRO) 13. Aneka Tambang (ANTM) 14. Semen Indonesia (SMGR) 15. Semen Baturaja (SMBR) 16. Tambang Bukit Asam (PTBA) 17. Kimia Farma (KAEF) 18. Indofarma (INAF)

Memilih BUMN sebagai tempat investasi memiliki beberapa Kelebihan:
1. Mayoritas Saham Milik Pemerintah     Ini adalah alasan utama, kenapa...??? karena perusahaan BUMN akan mendapat jaminan prioritas dari negara, contohnya adalah proyek jalan Tol oleh JSMR (Detail Proyek Ja…

Buku : Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh

Pada tanggal 19 Januari 2017, setelah selesai ujian akhir semester (UAS), penulis memutuskan untuk pergi ke gramedia di jalan Ringroad Medan. Awalnya penulis hendak membeli buku "Zero to One" karya Peter Thiel yang sebelumnya direkomendasikan oleh anggota Komunitas Saham Indonesia. Namun, buku yang penulis cari sudah habis, So.. akhirnya penulis membeli buku berjudul "Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh" karya Peter D. Schiff dan Andrew J. Schiff.


Buku ini menurut penulis sangat membantu dalam menjelaskan:
Ilustrasi asal-muasal sistem ekonomi Supply and Demand sebagai penggerak perekonomian Bagaimana seharusnya pemerintah mendorong masyrakat untuk menabung Penyebab inflasi dan deflasi Nilai dari sebuah mata uang Pembangunan infrastruktur berdampak terhadap perekonomian Bagaimana belanja negara menjadi bom waktu bagi negara itu sendiri  Bagaimana booming properti berujung krisis pada tahun 2008 dan pembahasan tentang pemahaman fundamental ekonomi 
Buku …

Buku : Disruption oleh Reinald Kasali

Anda ingat Bluebird Tbk? Taxi Express Tbk? Bagaimana laporan keuangan mereka saat ini? Penulis tanpa sengaja melihat sebuah buku baru di tatanan rak Grameda (21 Maret 2016) dan memutuskan untuk membelinya, buku itu berjudul Disruption karya Reinald Kasali dan dikesempatan kali ini penulis ingin membahas dan berbagi cerita tentang buku ini. 
Apa itu "Disruption"? Jika kita terjemahkan maka arti dari Disruption adalah mengacau atau lebih tepatnya pengacau. Apakah uber, grab maupun go-jek adalah pengacau bisnis transportasi? ataukah mereka adalah bentuk dari perubahan?

Jika kita ikuti berita tentang Taxi Online di Indonesia, kita akan ingat. Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan sempat mengeluarkan larangan adanya Go-Jek, namun keputusan itu dianulir oleh Presiden Jokowi. Apa dampaknya dari keputusan ini? Kita bisa melihat bagaimana perusahaan (Go-Jek) bertumbuh dengan cepatnya, melayani semua orang dengan layanan yang bervariatif (Go-Box, Go-Clean dll). Kini, selain Go…