Skip to main content

Buku : Disruption oleh Reinald Kasali

Anda ingat Bluebird Tbk? Taxi Express Tbk? Bagaimana laporan keuangan mereka saat ini? Penulis tanpa sengaja melihat sebuah buku baru di tatanan rak Grameda (21 Maret 2016) dan memutuskan untuk membelinya, buku itu berjudul Disruption karya Reinald Kasali dan dikesempatan kali ini penulis ingin membahas dan berbagi cerita tentang buku ini. 

Apa itu "Disruption"? Jika kita terjemahkan maka arti dari Disruption adalah mengacau atau lebih tepatnya pengacau. Apakah uber, grab maupun go-jek adalah pengacau bisnis transportasi? ataukah mereka adalah bentuk dari perubahan?


Jika kita ikuti berita tentang Taxi Online di Indonesia, kita akan ingat. Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan sempat mengeluarkan larangan adanya Go-Jek, namun keputusan itu dianulir oleh Presiden Jokowi. Apa dampaknya dari keputusan ini? Kita bisa melihat bagaimana perusahaan (Go-Jek) bertumbuh dengan cepatnya, melayani semua orang dengan layanan yang bervariatif (Go-Box, Go-Clean dll). Kini, selain Go-Jek juga bermunculan perusahaan lainnya seperti Uber dan Grab. Hal yang menarik dari data yang disajikan buku ini adalah Go-Jek yang merupakan pemain baru, ternyata memiliki market cap sebesar 12 Triliun vs 9 Triliun yang dimiliki oleh BIRD. Apa dampak Taxi Online bagi perusahaan konvensional?


Banyak tuntutan agar perusahaan-perusahaan ini di hentikan. Jika dilihat kenyataannya, berdasarkan laporan keuangan 2015 vs 2016, memang perusahaan-perusahaan seperti Bluebird (BIRD) dan Taxi Express (TAXI) mengalami penurunan laba bersih. Tercatat saham berkode BIRD mengalami penurunan laba bersih hingga 50% di 2016 (Q3 2016 360 Milyar vs Q3 2015 625 Milyar), bagaimana dengan TAXI? Jika dulu harus berebut dengan BIRD kini mereka harus berebut pasar dengan Grab dan Uber, alhasil sepanjang 2016 laporan keuangan TAXI mengalami rugi bersih. 

Apakah Grab dan Uber memang menjadi "Pengacau" sehingga harus dihentikan? Ataukah ini bukti menajemen tidak siap? Well... walaupun begitu lebih baik beradaptasi dengan inovasi ketimbang melawannya. Bluebird kini menggandeng Go-car (bagian layanan dari Go-Jek) sedangan Taxi Express menggandeng Uber pada layanannya. Lalu apakah saham BIRD dan TAXI akan cemerlang kedepannya? buku ini tidak membahasnya, buku ini justru mengajak kita melihat peluang-peluang bahwa semakin banyak Disruption yang akan terjadi kedepannya. Kita bisa melihat bagaimana LPPF bertanding dengan LAZADA sehingga mau tidak mau LPPF mengalokasikan dananya untuk Mataharimall.com. Tidak hanya sektor transportasi, sektor financial seperti bank pun menghadapi disruption. Jika selama ini bank terbuai dengan sistem yang ada, kini bank bersaing dengan Financial Technology (FinTech), seperti BCA (BBCA) yang meluncurkan Central Capital Ventura untuk bersaing dengan Fintech (Berita : BCA luncurkan layanan Fintech). Ada juga PT. Telkom (TLKM) yang sudah lebih dulu berkecimpung di Fintech dengan T-Cash nya. 

Hal yang menarik dari buku ini selain penjelasannya tentang "Peradaban Uber", cara beradaptasi dan pemahaman tentang teori Disruption oleh Chritiansen, adalah mengenai bagaimana bahasan tentang perusahaan PT Telkom (TLKM), yang ternyata telah mengalami disruption berulang kali sehingga tetap mampu menjadi leader. Ada beberapa alasan kenapa Telkom menjadi bahasan menarik bagi buku ini, yakni:

1. (67) Pemerintah berbagai negara memberikan perizinan teknologi nirkabel yang pertama justru kepada pemain lama. Jadi, motifnya adalah teknologi baru adalah pelengkap bagi teknologi yang sudah ada. Akibatnya, para pemasok teknologi dari berbagai negara berdatangan ke perusahaan-perusahaan yang sudah ada dan memperkuat posisi pemain lama.

2. (67) Operator mengerjar margin sehingga membidik segmen pelanggan kalangan profesional yang sangat mobile. Mereka ini adalah segmen yang rela membayar lebih mahal tetapi begitu kritis dan banyak menuntut. Akibatnya, banyak percakapan lintas operator, jaringan bertumbuh dimana-mana dan pengelolaannya berkembang.

3. (67) Pemerintah menentukan bahwa setiap operator harus menggunakan entitas yang terpisah. Dengan contoh PT Telkom yang pendapatannya disumbang (90%) oleh PT Telkomsel.

Lalu apakah ini "Moat"? Akankah TLKM menjadi sebuah perusahaan yang akan terus bertumbuh ditengah banyaknya Disruption? Perusahaan dengan kriteria apa saja yang akan mampu bertahan? Penulis rasa cara mendapatkan jawabannya adalah dengan membaca buku, dalam hal ini penulis merekomendasikan Disruption karya Reinald Kasali sehingga mendapat pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana Teknologi berkembang lebih cepat.

Sekian tulisan dari penulis. Selamat membaca dan Happy Investing!





Comments

Popular posts from this blog

Analisis Fundamental Petrosea Tbk

PT Petrosea adalah perusahaan Pertambangan, Rekayasa dan Konstruksi Nasional Indonesia dengan Kemampuan Internasional. Dengan lebih dari 42 tahun pengalaman dalam Pertambangan, Rekayasa dan Konstruksi, dan Offshore Services Base, Petrosea diakui sebagai salah satu kontraktor terkemuka di Indonesia.

Visi: Menjadi salah satu perusahaan terkemuka yang menyediakan jasa disektor pertambangan, Minyak & Gas serta infrastruktur di asia tenggara.

Misi: Menyediakan solusi yang inovatif disektor pertambangan, Minyak dan Gas serta infrastruktur untuk menciptakan kepuasan bagi seluruh klien dan pemangku kegiatan.



Pemegang saham Petrosea saat ini adalah:

Indika Energy    69.801%
Lo Kheng Hong 11.437%
Masyarakat        18.762%

Penulis berinvestasi di saham Petrosea (PTRO) sejak tahun 2016 (Portofolio November 2016), sejujurnya anak usaha Indika Energy (INDY) ini sudah penulis pantau sejak akhir tahun 2015 silam, ketika harganya masih 220an. Namun penulis belum memutuskan investasi di PTRO dikarenakan v…

Portofolio Oktober 2017

Seperti biasa laporan Bulanan akan saya tulis di blog saya, sebagai pengingat keputusan apa saja yang telah saya lakukan dalam berinvestasi.
Kinerja Portofolio saya cukup membaik, ditopang oleh penguatan harga saham MBSS. Walaupun secara overall masih mengalami rugi disebabkan penurunan harga saham LPPF, TOTL dan AISA. Berikut hasil kinerja portofolio saya per tanggal 28 Oktober 2017:
NAMA AVERAGE LAST % AISA 1555 980 (37.0) BNLI 658 650 (1.2) LPPF 10.600 8600 (18.9) MBSS 391 570 45.4 TOTL 765 695 (8.9) (X) = Sedang dalam keadaan penurunan / rugi


Berikut ulasan untuk portofolio saham saya saat ini :
1. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA)

Pertengahan bulan ini, saya menemani orang tua berbelanja bulanan. Saya melihat beberapa beras yang dilabeli tulisan "Beras HET". Uniknya bagi saya adalah tidak hanya beras Maknyus yang

MBSS : Waiting Moment

Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) adalah penyedia solusi logistik dan trasnportasi laut terpadu untuk bahan curah yang terkemuka di Indonesia, secara khusus batubara. memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman dalam bidang usaha ini, MBSS dikenal memiliki reputasi pelayanan dengan kualitas tinggi dan dapat diandalkan. MBSS terutama melayani tambang-tambang batubara terbesar di Indonesia

VISI: Menjadi perusahaan tingkat dunia dalam menyediakan solusi bagi layanan logistik laut dan transshipment yang diakui oleh standarisasi yang tinggi dari menajemen keselamatan, keandalan dan keunggulan operasional.

MISI: Menyediakan solusi yang berkualitas tinggi untuk logistik laut dan transshipment untuk batubara dan barang-barang curah lainnya termasuk minyak dan gas.


Penulis membeli MBSS pada Desember 2016 (Tercatat : Portofolio Des 2016), pada portofolio tersebut, MBSS sebenarnya penulis beli sebagai pengganti SOCI, kenapa SOCI dijual? sudah penulis jelaskan di artikel penulis tersebut, So... Let…