Skip to main content

LPPF : Too Big to Miss

Pada tanggal 1 Maret 2017, jika investor memperhatikan maka saham Matahari Departemen Store (LPPF), mengalami penurunan 15% dari 13.000/lembar (28/2/2017) menjadi 11.500/lembar (1/3/2017), Lalu apa penyebabnya?

Saham PT Matahari Departemen Store (LPPF) mendapatkan rekomendasi underweight alias patut dikurangi dengan target harga 12.000/lembar, padahal sebelumnya rekomendasi saham LPPF adalah overweight dengan target harga 23.390. Tidak perlu terlalu panjang lebar, sebenarnya analisa dari Bareksa (Link :LPPF Underweight) sudah cukup menjelaskan Laporan Keuangan LPPF. Hanya saja izinkan penulis sharing bagaimana pendapat penulis sendiri tentang LPPF

bagaimana tanggapan penulis terhadap LPPF? Ya, penulis memutuskan untuk melakukan Buy saham LPPF diharga 11.650, kenapa? Penulis memiliki beberapa alasan sederhana, yakni :

1. Price (Harga)
Jika kita perhatikan dari chart maka harga saham LPPF saat ini merupakan terendah dalam kurun 1 tahun terakhir.
 (Sumber : google)

Jika diperhatikan kembali, chart diatas maka harga tertinggi saham LPPF dalam 1 tahun terakhir adalah 22.575/lembar (7/1/2016). Namun, perhatian penulis sebenarnya lebih kepada nilai rasio PER LPPF, jika kita ambil dari Fundachart-Stockbit, maka akan terlihat :


Saat ini harga LPPF menyentuh -1 PER Standart Deviation, apakah mungkin ke PER -2 (garis paling bawah)? Mungkin saja, tapi penulis belajar dari saham UNTR dimana pernah dihargai 12.280/lembar (1/5/2017) dan kini dihargai 25.000/lembar, sebuah pelajaran berharga bagi penulis karena saham UNTR mengalami penurunan terbesarnya sejak 2013 silam. So? Jangan jatuh kelubang yang sama dua kali.

2. Net Income (Laba Bersih)
Apa yang salah dari LPPF sehingga direkomendasikan underwight oleh JP Morgan? Jawabanya adalah Q4 2016 LPPF tidak sesuai prediksi analyst JP Morgan. Mari kita lihat data berikut :
(Sumber LPPF Earning Slides)

Pendapatan dan Net Income perusahaan mengalami pertumbuhan, walaupun Same Store Sales Growth (SSSG) mengalami penurunan, SSSG adalah menunjukkan peningkatan pendatan setiap toko yang sama disetiap periode, sederhananya adalah membandingkan penjualan toko disetiap tahunnya. Berdasarkan data diatas, kita bisa melihat bahwa LPPF mengalami penurunan yang menunjukkan adanya perlambatan. Coba kita lihat perbandingan data lainnya, yakni :

Dari data diatas dapat dilihat pertumbuhan LPPF sebenarnya lebih baik di tahun 2015 sekalipun Net Income dan Sales meningkat.

Kesimpulan:
Sekalipun direkomendasikan underweight oleh sekuritas, bukan berarti LPPF tidak dalam track yang baik. Sebagai investor retail kita harus melihat segala kemungkinan, bukan tidak mungkin di 2017 kinerja LPPF membaik. Namun, penulis sendiri sudah mengambil keputusan untuk melakukan invest disaham ini dan beranggapan terlalu cepat menilai LPPF tanpa mempertimbangkan Q1 2017.

Comments

Popular posts from this blog

Kenapa Memilih Saham BUMN?

Sesuai judulnya... Perusahaan-perusahaan yang listing di bursa saham Indonesia terdapat beberapa perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) atau perusahaan yang saham Mayoritas dimiliki oleh negara Indonesia. Beberapa BUMN yang listing dibursa diantaranya :
1. Perusahaan Gas Negara (PGAS) 2. Jasa Marga (JSMR) 3. Waskita Karya (WSKT) 4. Wijaya Karya (WIKA) 5. Wika Beton (WTON) 6. Waskita Beton Precast (WBAP) 7. Bank Mandiri (BMRI) 8. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 9. Bank Nasional Indonesia (BBNI) 10. Bank Tabungan Negara (BBTN) 11. PT Pembangunan Perumahan (PTPP) 12. PP Properti (PPRO) 13. Aneka Tambang (ANTM) 14. Semen Indonesia (SMGR) 15. Semen Baturaja (SMBR) 16. Tambang Bukit Asam (PTBA) 17. Kimia Farma (KAEF) 18. Indofarma (INAF)

Memilih BUMN sebagai tempat investasi memiliki beberapa Kelebihan:
1. Mayoritas Saham Milik Pemerintah     Ini adalah alasan utama, kenapa...??? karena perusahaan BUMN akan mendapat jaminan prioritas dari negara, contohnya adalah proyek jalan Tol oleh JSMR (Detail Proyek Ja…

Buku : Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh

Pada tanggal 19 Januari 2017, setelah selesai ujian akhir semester (UAS), penulis memutuskan untuk pergi ke gramedia di jalan Ringroad Medan. Awalnya penulis hendak membeli buku "Zero to One" karya Peter Thiel yang sebelumnya direkomendasikan oleh anggota Komunitas Saham Indonesia. Namun, buku yang penulis cari sudah habis, So.. akhirnya penulis membeli buku berjudul "Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh" karya Peter D. Schiff dan Andrew J. Schiff.


Buku ini menurut penulis sangat membantu dalam menjelaskan:
Ilustrasi asal-muasal sistem ekonomi Supply and Demand sebagai penggerak perekonomian Bagaimana seharusnya pemerintah mendorong masyrakat untuk menabung Penyebab inflasi dan deflasi Nilai dari sebuah mata uang Pembangunan infrastruktur berdampak terhadap perekonomian Bagaimana belanja negara menjadi bom waktu bagi negara itu sendiri  Bagaimana booming properti berujung krisis pada tahun 2008 dan pembahasan tentang pemahaman fundamental ekonomi 
Buku …

Buku : Disruption oleh Reinald Kasali

Anda ingat Bluebird Tbk? Taxi Express Tbk? Bagaimana laporan keuangan mereka saat ini? Penulis tanpa sengaja melihat sebuah buku baru di tatanan rak Grameda (21 Maret 2016) dan memutuskan untuk membelinya, buku itu berjudul Disruption karya Reinald Kasali dan dikesempatan kali ini penulis ingin membahas dan berbagi cerita tentang buku ini. 
Apa itu "Disruption"? Jika kita terjemahkan maka arti dari Disruption adalah mengacau atau lebih tepatnya pengacau. Apakah uber, grab maupun go-jek adalah pengacau bisnis transportasi? ataukah mereka adalah bentuk dari perubahan?

Jika kita ikuti berita tentang Taxi Online di Indonesia, kita akan ingat. Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan sempat mengeluarkan larangan adanya Go-Jek, namun keputusan itu dianulir oleh Presiden Jokowi. Apa dampaknya dari keputusan ini? Kita bisa melihat bagaimana perusahaan (Go-Jek) bertumbuh dengan cepatnya, melayani semua orang dengan layanan yang bervariatif (Go-Box, Go-Clean dll). Kini, selain Go…