Skip to main content

Portofolio September 2017

Keterlambatan...

Halo pembaca, kembali saya lampirkan portofolio saya yang dapat Anda gunakan sebagai pembanding dalam melakukan evaluasi saham, saya juga berharap banyaknya kritikan dan masukan dari pembaca sekalian untuk mencapai kinerja portofolio yang lebih baik.

Kinerja Portofolio saya cukup membaik, sekalipun tetap dalam keadaan rugi. Alih-alih menggonta-ganti (merombak) portofolio saham, saya lebih nyaman untuk melakukan average down. Berikut hasil kinerja portofolio saya:

NAMA
AVERAGE
LAST
%
AISA
1555
930
(40.2)
BNLI
658
705
7.1
LPPF
10.600
9275
(12.5)
MBSS
391
386
(1.5)
TOTL
765
750
(2.0)
(X) = Sedang dalam keadaan penurunan / rugi

Dibandingkan dengan Portofolio Agustus 2017, saya memutuskan untuk menjual semua saham saya di Petrosea Tbk (PTRO) dengan keuntungan 89%. Saya membeli saham PTRO pertama kali pada bulan November (Portofolio November 2016) atau kurang lebih hold 11 Bulan. Kenapa tidak hold hingga 100% atau lebih? Sebelumnya saya sudah menjual sebagian saham saya pada bulan April (Portofolio April 2017) dengan keuntungan yang cukup memuaskan dan memutuskan untuk meletakkan dana pada saham lain.

Pertanyaan terbesar, bukankah Petrosea baru saja mencetak laba, lalu kenapa dijual? Well, saya pribadi mengakui bahwa manajemen Petrosea adalah salah satu manajemen yang bagus dan saya pernah membahasnya di Analisis Fundamental Petrosea Tbk. Tapi, sejujurnya saya belum melihat bahwa bisnis batubara membaik sekalipun harga batubara sudah diatas $55/ton yang merupakan rata-rata harga acuan minimal perusahaan batubara untuk mencetak laba. Untuk informasi positif terkait Petrosea adalah Induk Usahanya yakni Indika Energy Tbk (INDY) yang mengakuisisi Kideco dari Samtan (Induk Samindo Resources / MYOH) (Link Berita : INDY terbitkan obligasi USD 600juta untuk akuisisi Kideco) . Disatu sisi hal ini positif bagi Petrosea tapi juga pertaruhan besar bagi INDY karena membuat leverage mereka meningkat. Dengan catatan harga batubara bertahan dan stabil dikisaran >$70, dipastikan kinerja Kideco akan membuat laporan keuangan INDY membaik.

Berikut ulasan untuk portofolio saham saya saat ini :

1. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA)
"Habis gelap terbitlah terang" - R.A Kartini

Kata-kata Kartini bagi saya pribadi sangat tepat mencerminkan kondisi Tiga Pilar saat ini. Setelah berita negatif terus melanda dan belum ada kepastian hukum, kini berita postif telah hadir yakni Berkas Perkara Kasus PT IBU sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. berita lainnya adalah rencana Tiga Pilar melakukan Divestasi beras. Saya tidak tau apakah manajemen akan mendivestasi semua perusahaan beras ataukah hanya yang terlibat masalah. Sebagai informasi, pendapatan perusahaan terbesar ditopang oleh bisnis beras (TPS Rice 61.28% sumber AR AISA 2016).


Hal baik lainnya adalah manajemen berjanji untuk menyesuaikan dengan kualitas SNI yang tertera dan permohonan maaf dari Komisaris Utama juga sudah disampaikan terkait PT IBU. Untuk harga saham sendiri, secara pribadi, saya optimis akan membaik dengan seiringnya perbaikan dan kepercayaan konsumen terhadap produk-produk Tiga Pilar, hanya saja dibutuhkan waktu mengingat kasus PT IBU berhubungan langsung dengan merk dagang Tiga Pilar. Untuk laporan keuangan Q2 2017 yang belum keluar, saya telah bertanya kepada Corporate Secretary AISA bahwa Q2 sedang dalam proses audit dan akan segera dilaporkan.

2. Matahari Departemen Store (LPPF)

Turunnya harga saham LPPF, disebabkan oleh beberapa survei yang menunjukkan bahwa masyarakat beralih kepada toko online (e-commerce) yang akan berdampak pada kinerja LPPF secara jangka panjang. Beberapa survei juga menunjukkan bahwa toko-toko retail di Indonesia tetap mampu bersaing dikarenakan konsumen tetap memilih untuk datang ketoko dikarenakan kecocokan ukuran dan kepastian kualitas menjadi prioritas. Pihak manajemen Matahari telah menganggarkan dana untuk berinvestasi pada Mataharimall.com

3. Mitrabara Segara Sejati (MBSS)

Hasil YoY laporan keuangan Mitrabahtera pada Q2 menunjukkan perbaikan dimana rugi bersih menurun menjadi -54.532.367.951 dari sebelumnya rugi bersih sebesar -79.896.790.960. Rugi bersih masih terjadi disebabkan belum pulihnya Sales dari Mitrabahtera, dimana Q2 2017 membukukan Sales sebesar 441 Milyar. Setelah dipelajari kerugian MBSS adalah penyusutan (depresiasi) kapal dan mesin. Dalam bisnis perkapalan, depresiasi nilai kapal adalah hal yang tidak bisa dihindari sekalipun kapal beroperasi ataupun tidak. Lalu bagaimana cara agar MBSS kembali mencetak laba? jawabannya adalah peningkatan sales. Jika Anda membandingkan antara sales pada tahun Q2 2014 vs Q2 2017, penurunan sales MBSS mencapai 400 Milyar. Selain penurunan sales, penyebab lainnya adalah Docking Kapal yang dimulai pada 2015 dan diperkirakan akan selesai 2017. Jika kapal-kapal sudah selesai Docking, dengan adanya sentimen positif dari INDY yang membayar hutang MBSS bisa jadi pertanda bahwa MBSS akan kembali kedalam peforma terbaiknya.

4. Total Bangun Persada (TOTL)

Sampai detik ini, Kontrak Total Bangun telah mencapai 78.5% (3 Triliun Rupiah) dari target tahun ini sebesar 4 Triliun (Link :Kontrak Total 9M2017). Manajemen tetap optimis bisa mencapai target kontrak hingga akhir tahun. Untuk Capital Expenditure (CAPEX) tahun ini ditargetkan adalah 50 Milyar yang digunakan untuk pembangunan gudang. 



Sekian tulisan saya kali ini dan semoga bermanfaat menginspirasi pembaca sekalian, Happy Investing!





 

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Fundamental Petrosea Tbk

PT Petrosea adalah perusahaan Pertambangan, Rekayasa dan Konstruksi Nasional Indonesia dengan Kemampuan Internasional. Dengan lebih dari 42 tahun pengalaman dalam Pertambangan, Rekayasa dan Konstruksi, dan Offshore Services Base, Petrosea diakui sebagai salah satu kontraktor terkemuka di Indonesia.

Visi: Menjadi salah satu perusahaan terkemuka yang menyediakan jasa disektor pertambangan, Minyak & Gas serta infrastruktur di asia tenggara.

Misi: Menyediakan solusi yang inovatif disektor pertambangan, Minyak dan Gas serta infrastruktur untuk menciptakan kepuasan bagi seluruh klien dan pemangku kegiatan.



Pemegang saham Petrosea saat ini adalah:

Indika Energy    69.801%
Lo Kheng Hong 11.437%
Masyarakat        18.762%

Penulis berinvestasi di saham Petrosea (PTRO) sejak tahun 2016 (Portofolio November 2016), sejujurnya anak usaha Indika Energy (INDY) ini sudah penulis pantau sejak akhir tahun 2015 silam, ketika harganya masih 220an. Namun penulis belum memutuskan investasi di PTRO dikarenakan v…

Portofolio Oktober 2017

Seperti biasa laporan Bulanan akan saya tulis di blog saya, sebagai pengingat keputusan apa saja yang telah saya lakukan dalam berinvestasi.
Kinerja Portofolio saya cukup membaik, ditopang oleh penguatan harga saham MBSS. Walaupun secara overall masih mengalami rugi disebabkan penurunan harga saham LPPF, TOTL dan AISA. Berikut hasil kinerja portofolio saya per tanggal 28 Oktober 2017:
NAMA AVERAGE LAST % AISA 1555 980 (37.0) BNLI 658 650 (1.2) LPPF 10.600 8600 (18.9) MBSS 391 570 45.4 TOTL 765 695 (8.9) (X) = Sedang dalam keadaan penurunan / rugi


Berikut ulasan untuk portofolio saham saya saat ini :
1. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA)

Pertengahan bulan ini, saya menemani orang tua berbelanja bulanan. Saya melihat beberapa beras yang dilabeli tulisan "Beras HET". Uniknya bagi saya adalah tidak hanya beras Maknyus yang

MBSS : Waiting Moment

Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) adalah penyedia solusi logistik dan trasnportasi laut terpadu untuk bahan curah yang terkemuka di Indonesia, secara khusus batubara. memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman dalam bidang usaha ini, MBSS dikenal memiliki reputasi pelayanan dengan kualitas tinggi dan dapat diandalkan. MBSS terutama melayani tambang-tambang batubara terbesar di Indonesia

VISI: Menjadi perusahaan tingkat dunia dalam menyediakan solusi bagi layanan logistik laut dan transshipment yang diakui oleh standarisasi yang tinggi dari menajemen keselamatan, keandalan dan keunggulan operasional.

MISI: Menyediakan solusi yang berkualitas tinggi untuk logistik laut dan transshipment untuk batubara dan barang-barang curah lainnya termasuk minyak dan gas.


Penulis membeli MBSS pada Desember 2016 (Tercatat : Portofolio Des 2016), pada portofolio tersebut, MBSS sebenarnya penulis beli sebagai pengganti SOCI, kenapa SOCI dijual? sudah penulis jelaskan di artikel penulis tersebut, So... Let…